28 Maret 2009

ILMU PERNAPASAN YOGI by Yogi Ramacharaka

BAB I. SALAM

Siswa Barat cenderung agak bingung berkenaan dengan filosofi dan kebiasaan para Yogi. Orang-orang yang melakukan perjalanan ke India telah menulis kisah-kisah besar tentang para Wali yang suka mengembara dan hidup mengemis, mendapat nafkah dengan meminta-minta sedekah, dan para tukang obat yang memenuhi jalan-jalan besar dan kota di India, yang dengan lancang mengklaim gelar “Yogi.” Siswa Barat hampir tidak dapat disalahkan karena menganggap tipikal Yogi sebagai seorang yang kurus kering, fanatik, dekil, seorang Hindu yang dungu, yang salah satu diantaranya duduk dengan postur tertentu sampai badannya menjadi kurus kering, atau yang lain mengangkat lengannya ke atas sampai menjadi kaku, linu dan lemah, dan terus bertahan pada posisi itu, atau mungkin mengepalkan tangannya dengan ketat hingga kuku-kuku jari tangannya tumbuh pada palung telapak tangannya. Keberadaan orang-orang ini adalah kenyataan, tetapi klaim mereka kepada gelar “Yogi” sepertinya tidak masuk akal sebagaimana Yogi sejati, seperti halnya klaim gelar “Dokter” bagi seseorang yang mengupas jagung nampak seperti ahli bedah yang ulung, atau seperti halnya gelar “Profesor” yang diasumsikan dengan penjual obat cacing di pojok jalan, sebagaimana Presiden Harvard atau Yale.

Sejak zaman dahulu banyak orang di India dan negara Timur lainnya yang mencurahkan waktu dan perhatian mereka kepada perkembangan manusia, secara fisik, mental, dan spiritual. Pengalaman dari generasi ke generasi dari semua lapisan masyarakat yang bijak telah diturunkan selama berabad-abad dari guru ke murid, dan secara berangsur-angsur ilmu pengetahuan yogi tertentu terus meningkat. Untuk investigasi dan pengajaran ini akhirnya digunakan istilah “Yogi,” dari kata Sanskerta “Yug,” yang berarti “menghubungkan” (to join). Dari sumber yang sama menjadi kata “yoke” dalam Bahasa Inggris dengan arti yang mirip. Penggunaannya sehubungan dengan pengajaran ini sulit untuk dijiplak begitu saja. Beda ahli beda pula penjelasan yang diberikan. Tetapi yang cerdas mungkin memegang pendapatnya bahwa yang dimaksud oleh Hindu equivalen dengan ide yang disampaikan dengan ucapan dalam Bahasa Inggris, “getting into harness,” atau “yoking up,” sebagaimana Yogi niscaya “memperoleh manfaat” dalam melakukan pengendalian tubuh dan pikiran dengan niat yang sungguh-sungguh.

Yoga dibagi menjadi beberapa cabang, dari yang mengajarkan pengendalian tubuh sampai yang mengajarkan pencapaian perkembangan spiritual tertinggi. Dalam karya ini kita tidak akan masuk ke dalam fase yang lebih tinggi dari pokok materi, kecuali bila "Ilmu Pernapasan Yogi" menyentuh hal tersebut. "Ilmu Pernapasan Yogi" menyentuh banyak poin yoga, dan meskipun terutama mengenai perkembangan dan pengendalian fisik, ia juga berkenaan dengan sisi psikis, dan bahkan memasuki ranah perkembangan spiritual.

Di India ada sekolah yoga yang besar, terdiri dari ribuan cendikiawan terkemuka dari negara besar ini. Filosofi yoga merupakan prinsip hidup bagi banyak orang. Pengajaran yoga yang murni diberikan hanya untuk segelintir orang, sementara itu, masyarakat luas cukup puas dengan remah-remah yang jatuh dari meja-meja golongan terpelajar, adat Timur dalam hal ini bertentangan dengan dunia Barat. Tetapi ide-ide Barat mulai memberi pengaruh kuat bahkan di Asia Timur, dan pengajaran yang tadinya diberikan hanya untuk segelintir orang sekarang ditawarkan kepada siapa saja yang siap menerimanya. Timur dan Barat tumbuh semakin dekat, dan keduanya mengambil pelajaran dengan saling berhubungan, yang satu mempengaruhi yang lain.

Para Yogi Hindu senantiasa memberi perhatian besar kepada ilmu pernapasan, dengan berbagai alasan yang akan menjadi jelas bagi siswa yang membaca buku ini. Banyak penulis Barat telah menyinggung pengajaran yogi fase ini, tetapi kami percaya sikap hati-hati dari penulis karya ini untuk diberikan kepada siswa Barat, dalam bentuk ringkas dan bahasa yang sederhana, prinsip-prinsip dasar dari ilmu pernapasan Yogi, serta beberapa latihan dan metode pernapasan Yogi yang disukai. Kami telah menyajikan ide-ide Barat yang sama baiknya dengan orang Timur, memperlihatkan kecocokan yang satu dengan yang lain. Kami menggunakan istilah-istilah Inggris biasa, hampir seluruhnya, menghindari istilah-istilah Sanskerta yang membingungkan bagi rata-rata pembaca Barat.

Bagian pertama buku ini membeberkan fase fisikal dari ilmu pernapasan, kemudian sisi psikis dan mental dipertimbangkan, dan akhirnya menyinggung pada sisi spiritual.

Semoga dimaafkan jika kami menjelaskan kebahagiaan kami dengan sukses kami dalam meringkas banyak kebiasaan dan pengetahuan Yogi ke dalam sedikit halaman dengan menggunakan kata-kata dan istilah-istilah yang mungkin dimengerti oleh siapa saja. Kami hanya takut bahwa itu terlalu sederhana yang mungkin menyebabkan banyak orang yang melewatinya dengan perhatian yang tidak layak, sementara mereka melalui cara mereka mencari-cari sesuatu yang "dalam," gaib dan di luar nalar. Akan tetapi, pikiran Barat terkenal sangat praktis, dan kami mengetahui bahwa itu hanyalah pertanyaan sementara sebelum mereka mengakui kepraktisan karya ini.

Kami menyambut para siswa kami dengan salam yang paling dalam, dan mengucapkan selamat, mereka telah duduk untuk pelajaran pertama mereka dalam Ilmu Pernapasan Yogi.


BAB II. NAPAS ADALAH HIDUP

Hidup secara mutlak bergantung pada perbuatan bernapas. Napas adalah hidup.
Mereka mungkin berbeda pada detail teori dan peristilahan, tetapi Timur dan Barat menyetujui prinsip asasi ini.

Bernapas adalah untuk hidup, dan tanpa napas tidak ada hidup. tidak hanya hewan lebih tinggi bergantung pada napas untuk hidup dan sehat, tetapi bahkan wujud hewan lebih rendah pun harus bernapas untuk hidup, dan begitu juga hidup tanaman bergantung pada udara untuk melanjutkan eksistensinya.

Jabang bayi menarik napas panjang, napas dalam, menahannya sebentar untuk mengekstrak sarinya sebagai properti pemberi hidup, dan kemudian menghembuskannya dalam ratapan yang panjang, dan wow! hidupnya di atas bumi telah dimulai. Seorang renta memperlihatkan tanda-tanda sekarat dengan hembusan napas yang megap-megap, kemudian berhenti bernapas, dan hidupnya pun berlalu. Mulai dari napas lemah jabang bayi sampai akhir hembusan napas orang sekarat, itu adalah sebuah cerita panjang dari napas yang tiada hentinya. Hidup adalah alasan satu rangkaian napas.

Bernapas mungkin dianggap paling utama dari semua fungsi tubuh, karena, memang, semua fungsi yang lain tergantung padanya. Seseorang mungkin eksis sekali waktu tanpa makan; sementara waktu tanpa minum; tetapi tanpa bernapas eksistensinya mungkin cukup diukur dengan hitungan menit.

Dan orang tidak hanya bergantung pada napas untuk hidup, tetapi secara lebih luas orang bergantung pada kebiasaan bernapas yang benar untuk kelangsungan vitalitas dan bebas dari penyakit. Kecerdasan mengendalikan kekuatan napas kita akan memperpanjang hari-hari kita di atas bumi dengan memberi kita vitalitas yang meningkat dan kekuatan daya tahan, dan, sebaliknya, kepandiran dan bernapas asal-asalan akan cenderung mempersingkat hari-hari kita, dengan berkurangnya vitalitas kita dan membuat kita terbuka bagi penyakit.

Orang dalam keadaan normalnya tidak perlu instruksi dalam bernapas. Seperti hewan-hewan kecil dan anak-anak, dia bernapas secara alami dan semestinya, dia melakukannya seperti yang diharapkan oleh alam, tetapi peradaban telah merubahnya dalam hal ini dan hal-hal yang lain. Dia telah terjangkit metode dan sikap tidak patut dalam berjalan, berdiri dan duduk, yang telah merampok dia dari hak kelahirannya, hak asasi untuk bernapas alami dan benar. Dia telah membayar mahal untuk peradaban. Orang-orang "bebas", tiap hari, bernapas secara alami, kecuali kalau dia telah terkontaminasi oleh kebiasaan orang beradab.

Persentase dari orang beradab yang bernapas dengan benar sangat kecil, dan hasil ini ditunjukkan pada dada mengempis dan bahu membungkuk, dan ditambah penyakit-penyakit mengerikan pada organ-organ pernapasan, termasuk monster yang sangar mengerikan, sakit paru-paru, “momok putih” (the white scourge). Para ahli terkenal menyatakan bahwa satu generasi orang-orang yang bernapas dengan benar akan meningkatkan akhlak bangsa, dan penyakit akan menjadi sangat jarang yang dianggap sebagai barang aneh. Apakah dilihat dari pandangan Timur atau Barat, hubungan antara bernapas yang benar dan kesehatan dengan mudah dapat dilihat dan diterangkan.

Pengajaran Barat memperlihatkan bahwa kesehatan fisik sangat bergantung secara jasmaniah pada pernapasan yang benar. Para guru dari Timur tidak hanya mengakui saudara-saudara mereka dari Barat itu benar, tetapi juga mengatakan bahwa dalam menambah kebaikan yang berhubungan dengan fisik diperoleh dari kebiasaan bernapas yang benar. Kekuatan mental, kebahagiaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak, dan bahkan pertumbuhan spiritual seseorang mungkin meningkat oleh pemahaman pada "Ilmu Pernapasan Yogi". Di semua sekolah Filosofi Timur telah dijumpai ilmu pengetahuan ini, dan pengetahuan ini ditangkap serta dipahami oleh bangsa-bangsa Barat, dan oleh mereka diberikan penggunaan praktis yang mana berisi poin-poin penting, akan bekerja secara menakjubkan di antara mereka. Teori dari Timur, dikawinkan dengan praktek Barat, akan menghasilkan keturunan yang pantas dan berguna.
Karya ini memuat "Ilmu Pernapasan Yogi", yang tidak hanya memasukkan semua yang diketahui oleh ahli fisiologi dan kesehatan Barat , tetapi juga sisi gaib subjek ini. Karya ini tidak hanya menjelaskan cara menuju fisik sehat sepanjang hayat yang mana oleh ilmuwan Barat diistilahkan "napas dalam", dan lain-lain, tetapi juga sedikit pengetahuan fase-fase dari subjek ini, dan menunjukkan bagaimana Yogi Hindu mengontrol tubuhnya, meningkatkan kapasitas mentalnya, dan mengembangkan sisi spiritual dari kebiasaannya dengan "Ilmu Pernapasan Yogi".

Yogi melakukan latihan-latihan dengan mana dia mencapai kendali tubuhnya, dan itu memungkinkan untuk mengirim ke organ yang mana saja atau bagian tubuh tertentu, meningkatkan aliran dari tenaga vital atau "prana", dengan demikian memperkuat dan menyegarkan organ atau bagian tubuh. Dia tahu semua saudara ilmuwan Barat itu tahu tentang efek fisiologis dari bernapas yang benar, tetapi dia juga tahu bahwa udara berisi lebih dari sekedar oksigen, hidrogen dan nitrogen, dan sesuatu yang lebih itu menyempurnakan daripada sekedar oksigenasi darah. Dia tahu sesuatu tentang "prana", yang mana tidak diketahui oleh saudara-saudaranya dari Barat, dan dia tahu sepenuhnya akan sifat dasar dan cara menangani asas energi yang hebat itu, dan juga tahu sepenuhnya mengenai efeknya terhadap tubuh dan pikiran manusia. Dia tahu bahwa dengan napas berirama seseorang mungkin membawa dirinya sendiri ke dalam vibrasi harmonis dengan alam, dan membantu dalam pembukaan kekuatan latennya. Dia tahu bahwa dengan mengendalikan pernapasan dia mungkin tidak hanya menyembuhkan penyakit dalam dirinya sendiri dan orang lain, tetapi juga secara praktis menghapuskan rasa takut, cemas, dan semua yang menjadi pangkal emosi.

Mengajarkan hal ini adalah objek karya ini. Kami akan memberikan beberapa bab penjelasan dan instruksi singkat, yang mungkin diperluas dalam isi. Kami harap dapat menggugah pikiran dunia Barat pada nilai "Ilmu Pernapasan Yogi".

(bersambung)